Hidup ini memang penuh dengan misteri. Bahkan ada orang bilang bahwa kalau tidak ada misteri maka bukan hidup namanya. Kadang kita berpikir bahwa si A adalah orang yang baik tapi ternyata kebalikannya. Kadang pula bahwa mobil Z adalah mobil yang tidak cocok untuk kita, nyatanya? Mobil Z adalah mobil yang sangat cocok untuk kita. Adakalanya orang yang berbuat curang malah mendapatkan kebaikan atau nilai baik. Sebaliknya, orang yang jujur dan bekerja keras mendapatkan hal kebalikannya. Namun, itulah hidup.
Tuhan tidak pernah memilih kepada siapa rizki atau kenikmatan yang diaberikan. Bahkan kepada seorang malingpun, Tuhan masih memberinya hidup. Bahkan sampai meninggalnya, maling tersebut tidak pernah tertangkap oleh penegak hukum. Lalu apakah ini adil menurut ukuran kita, manusia? Tentu jawabannya tidak. Jika ia, sungguh anda ada dideretan para orang yang diberi pencerahaan.
Memang, sering kali atau bahkan selalu, manusia mengukur keadilan pada konteks kekinian. Menurut penulis, itu manusiawi. Namun, jika kita masih ingat bahwa kita hidup tidak hanya di konteks kekinian. Ada waktu didepan yang membentang. Bahkan seklaipun ketika kita sudah meninggal. Kita akan melihat akibat dari yang telah kita lakukan. Tuhan tidak pernah meningkari apa yang pernah Dia janjikan. Maha Suci Dia dari semua itu. Cepat atau lambat, pada beberapa waktu kedepan, pasti kita akan mendapatkan jawaban atas perbuatan kita. Sekalipun anda berhati bebal, yakinlah anda akan selalu menanggung rasa malu atas kebrukan yang pernah anda lakukan. Apalagi jika anda memilih jalan hidup untuk menjadi penyeru moral, maka yakinlah sepanjang hidup anda akans elalu dihantui perasaan bersalah tersebut.
Jadi, relevankah jika kita masih mempertanyakan keadilan Tuhan? Jawabannya penulis serahkan kepada masing-masing pembaca. Inilah hidup. Dan inilah kepastian hidup.
06 Juni 2011
02 Juni 2011
Menikmati Hidup Ini
Liburan yang cukup menyenangkan. Setidaknya ini setelah penulis melihat untuk ke sekian kalinya film 3 idiot. Film yang menggambarkan persahabatan 3 orang sahabat yang berkuliah disebuah sekolah tinggi engineering. Sekolah yang menghasilkan orang-orang yang diharapkan mampu menjadi pioneer di bidang aplikasi teknologi. Bidang yang akan selalu menjadi pendorong peradaban.
Disana ada 3 orang sahabat yang sangat kompak. Persahabatan yang tidak karena keterpaksaan menjadi teman satu angkatan ataupun persahabatan yang disebabkan oleh kepentingan mendapatkan nilai yang bagus. Meskipun demikian, ke 3 orang tersebut sebetulnya memiliki minat yang berbeda-beda. Orang yang pertama memilki minta di bidang mechanical engineering dan berusaha mengembangkan kapasitas keilmuannya untuk menjadi ilmuwan dan mengajar. Orang yang kedua adalah orang yang juga menyukai bidang mechanical engineering namun karena tidak bisa memfokuskan dirinya untuk belajar maka apa yang diraihnya tidak optimal. Orang kedua ini mengembangkan keilmuannya melalui jalur praktis dan bisa dikatakan hanya sebagai pengguna ilmunya. Orang yang ketiga atau yang terakhir adalah orang yang sebenarnya menyukai bidang fotografi. Tetapi karena ayahnya menginginkan dirinya menjadi seorang engineer maka terpaksa ia berkuliah di sekolah engineering.
Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya mereka menyadari bahwa hanya dengan minat yang tinggi akan suatu bidanglah manusia bisa menjadi optimal. Menjadi diri sendiri lah. Bukan menjadi orang lain, menjadi seperti bos, menjadi seperti teman di sana di sini, atau seperti lainnya. Ketika semua orang mengkhawatirkan masa depannya, hanya ada satu jawaban untuk mengatasi kekhawatiran tersebut. jawabannya adalah fokus pada minatmu maka masa depan akan menjdi milikmu. Nikmati hidup ini.
Disana ada 3 orang sahabat yang sangat kompak. Persahabatan yang tidak karena keterpaksaan menjadi teman satu angkatan ataupun persahabatan yang disebabkan oleh kepentingan mendapatkan nilai yang bagus. Meskipun demikian, ke 3 orang tersebut sebetulnya memiliki minat yang berbeda-beda. Orang yang pertama memilki minta di bidang mechanical engineering dan berusaha mengembangkan kapasitas keilmuannya untuk menjadi ilmuwan dan mengajar. Orang yang kedua adalah orang yang juga menyukai bidang mechanical engineering namun karena tidak bisa memfokuskan dirinya untuk belajar maka apa yang diraihnya tidak optimal. Orang kedua ini mengembangkan keilmuannya melalui jalur praktis dan bisa dikatakan hanya sebagai pengguna ilmunya. Orang yang ketiga atau yang terakhir adalah orang yang sebenarnya menyukai bidang fotografi. Tetapi karena ayahnya menginginkan dirinya menjadi seorang engineer maka terpaksa ia berkuliah di sekolah engineering.
Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya mereka menyadari bahwa hanya dengan minat yang tinggi akan suatu bidanglah manusia bisa menjadi optimal. Menjadi diri sendiri lah. Bukan menjadi orang lain, menjadi seperti bos, menjadi seperti teman di sana di sini, atau seperti lainnya. Ketika semua orang mengkhawatirkan masa depannya, hanya ada satu jawaban untuk mengatasi kekhawatiran tersebut. jawabannya adalah fokus pada minatmu maka masa depan akan menjdi milikmu. Nikmati hidup ini.
21 Mei 2011
Maling Teriak Maling
Maling teriak maling,
sembunyi balik dinding,
pengecut lari terkencing-kencing...
Tikam dari belakang,
lawan lengah diterjang,
lalu sibuk mencari kambing hitam...
Penulis merasakan lagu Iwan Fals ini sangat sesuai dengan kondisi negeri ini. Negeri dengan berjuta masalah, namun tanpa satupun visi untuk menyelesaikannya. Semuanya menjadi tampak relatif, sumir atau bahasa tren-nya abu-abu. Kebenaran menjadi relatif, ketidak benaran dapat menjadi bentuk kebenaran baru.
Orang di negeri ini menjadi sangat marah jika apa yang dilakukannya terbukti salah. Orang di negeri ini akan menutupi kesalahannya dan sengan kedok bahwa hanya dirinya sendiri yang tahu akan dirinya, ia memutarbalikkan fakta.
Orang di negeri ini gemar sekali berjanji. Gemar sekali menyatakan kesanggupan yang mestinya jika dipikir dengan pikiran yang jernih sangat tidak mungkin kesanggupannya untuk dipenuhi.
Orang di negeri ini akan menuntut lebih jika ada orang lainnya menolongnya. Tanpa malu-malu bahkan mengemis untuk meminta pertolongan. Punya uang mengaku miskin. Bisa beli pulsa mengaku ekonomi lemah.
Orang di negeri ini gemar sekali marah. Demi reformasi, demi menyampaikan pendapat, dihadang semua motor atau mobil dinas yang berplat merah. Padahal orang itu masih berharap menjadi PNS. Bahkan jika mereka gugur atau tidak lolos dalam tes penerimaan CPNS, orang itu akan marah. Merusak kantor pemerintah yang padahal sangat mereka idamkan untuk mencari kepeng.
Orang di negeri ini suka sekali memamerkan kegiatannya sehari-hari yang semestinya tidak perlu dipamerkan. Orang di negeri ini juga senang memasang foto tempat kunjungannya ketika mereka bepergian. Orang itu beranggapan bahwa orang lain tidak pernah berkunjung ke tempat itu. Orang itu juga selalu beranggapan tempat yang dikunjunginya adalah menarik dengan tujuan orang lain iri. Padahal, orang itu hanya menginap di hotel yang mungkin tidak nyaman. tapi demi gengsi dan pamer, semuanya bisa dilakukan. Toh siapa yang bisa memverifikasi kebenaran foto dan status?
Satu lagi, orang di negeri ini masih ada saja yang beranggapan bahwa orang itu adalah wakil dari orang lain. Menyampaikan segala keluhan orang lain. Padahal, nyatanya, orang tersebut hanya berteriak dan mencari-cari jawaban pembenaran. Menganjurkan orang lain ber-etika tapi berbicara SARA. Menjawab pertanyaan wartawan dengan cara sekedar mengeles, seperti orang baru itu.
Demikianlah, marinng teriak maling.
sembunyi balik dinding,
pengecut lari terkencing-kencing...
Tikam dari belakang,
lawan lengah diterjang,
lalu sibuk mencari kambing hitam...
Penulis merasakan lagu Iwan Fals ini sangat sesuai dengan kondisi negeri ini. Negeri dengan berjuta masalah, namun tanpa satupun visi untuk menyelesaikannya. Semuanya menjadi tampak relatif, sumir atau bahasa tren-nya abu-abu. Kebenaran menjadi relatif, ketidak benaran dapat menjadi bentuk kebenaran baru.
Orang di negeri ini menjadi sangat marah jika apa yang dilakukannya terbukti salah. Orang di negeri ini akan menutupi kesalahannya dan sengan kedok bahwa hanya dirinya sendiri yang tahu akan dirinya, ia memutarbalikkan fakta.
Orang di negeri ini gemar sekali berjanji. Gemar sekali menyatakan kesanggupan yang mestinya jika dipikir dengan pikiran yang jernih sangat tidak mungkin kesanggupannya untuk dipenuhi.
Orang di negeri ini akan menuntut lebih jika ada orang lainnya menolongnya. Tanpa malu-malu bahkan mengemis untuk meminta pertolongan. Punya uang mengaku miskin. Bisa beli pulsa mengaku ekonomi lemah.
Orang di negeri ini gemar sekali marah. Demi reformasi, demi menyampaikan pendapat, dihadang semua motor atau mobil dinas yang berplat merah. Padahal orang itu masih berharap menjadi PNS. Bahkan jika mereka gugur atau tidak lolos dalam tes penerimaan CPNS, orang itu akan marah. Merusak kantor pemerintah yang padahal sangat mereka idamkan untuk mencari kepeng.
Orang di negeri ini suka sekali memamerkan kegiatannya sehari-hari yang semestinya tidak perlu dipamerkan. Orang di negeri ini juga senang memasang foto tempat kunjungannya ketika mereka bepergian. Orang itu beranggapan bahwa orang lain tidak pernah berkunjung ke tempat itu. Orang itu juga selalu beranggapan tempat yang dikunjunginya adalah menarik dengan tujuan orang lain iri. Padahal, orang itu hanya menginap di hotel yang mungkin tidak nyaman. tapi demi gengsi dan pamer, semuanya bisa dilakukan. Toh siapa yang bisa memverifikasi kebenaran foto dan status?
Satu lagi, orang di negeri ini masih ada saja yang beranggapan bahwa orang itu adalah wakil dari orang lain. Menyampaikan segala keluhan orang lain. Padahal, nyatanya, orang tersebut hanya berteriak dan mencari-cari jawaban pembenaran. Menganjurkan orang lain ber-etika tapi berbicara SARA. Menjawab pertanyaan wartawan dengan cara sekedar mengeles, seperti orang baru itu.
Demikianlah, marinng teriak maling.
17 November 2010
Bangsa ini Tidak Bisa Mengantri
Sekali lagi tabiat asli penduduk negeri ini kembali terkuak. Di tengah ke syahduan perayaan Idul Adha, penulis dihidangkan dengan berbagai berita yang menggambarkan tentang budaya "tidak bisa antri" dan "tidak sabaran" ditengah acara pembagian jatah hewan qurban. Entah apa yang ada di benak kita semua jika dihidangkan hidangan yang berulang tanpa pernah tergugah kesadaran kita untuk menyadari keberulangan hidangan tersebut.
Antrian yang berdesakan, berdorongan, tidak tertib penulis anggap itu bukan antrian. Itu tindakan egois dari individu yang mau menang sendiri. Tindakan ini merupakan cerminan dari karakter individu negeri ini yang memang tidak terbiasa dengan budaya antri. Kita sudah sangat terbiasa dengan menyerobot antrian, kita sangat familiar dengan budaya memotong barisan antrian dengan alasan berbagai alasan berkedok kemanusiaan, kita sudah mendarah daging dengan melanggar hak individu lain bahkan melanggar aturan umum. Kita ini memang bangsa yang tidak bisa antri, tidak suka antri dan memang bebal untuk antri. Padahal sudah banyak kejadian yang sangat merugikan bahkan sudah banyak korban nyawa yang sangat berharga. Tapi memang, bangsa ini entah terkena dampak insomnia atau apa, kejadian ini berulang lagi. Ah, entah apapun, penulis semakin menyentuh garis putus asa untuk urasan ini, urusan antri karena penulis seringkali mengalami diserobot antriannya, ingin marah tapi ke siapa?
Antrian yang berdesakan, berdorongan, tidak tertib penulis anggap itu bukan antrian. Itu tindakan egois dari individu yang mau menang sendiri. Tindakan ini merupakan cerminan dari karakter individu negeri ini yang memang tidak terbiasa dengan budaya antri. Kita sudah sangat terbiasa dengan menyerobot antrian, kita sangat familiar dengan budaya memotong barisan antrian dengan alasan berbagai alasan berkedok kemanusiaan, kita sudah mendarah daging dengan melanggar hak individu lain bahkan melanggar aturan umum. Kita ini memang bangsa yang tidak bisa antri, tidak suka antri dan memang bebal untuk antri. Padahal sudah banyak kejadian yang sangat merugikan bahkan sudah banyak korban nyawa yang sangat berharga. Tapi memang, bangsa ini entah terkena dampak insomnia atau apa, kejadian ini berulang lagi. Ah, entah apapun, penulis semakin menyentuh garis putus asa untuk urasan ini, urusan antri karena penulis seringkali mengalami diserobot antriannya, ingin marah tapi ke siapa?
06 Mei 2010
Badai Century Itu Datang Lagi
Badai itu kembali lagi. Ya, badai century itu kembali terasa menerpa wajah warga negeri ini. Setelah beberapa waktu sempat ditenggelamkan oleh jump shoot yang dilakukan oleh Komjen Pol Susno Duadji, badai century kembali terasa. Diawalai dengan dibentuknya sebuah tim oleh DPR yang bertugas untuk mengawasi dilaksanakannya rekomendasi panus century, kemudian dipuncaki dengan kejadian diangkatnya Dr. Sri Mulyani menjadi managing director Bank Dunia.
Ada beberapa hal yang sungguh tidak dimengerti penulis mengadapi ekor angin badai century yang sempat menerpa wajah penulis. Pertama, penulis sangat mengapresiasi para senator yang mayoritas masih muda untuk "beridealis" mengungkap "indikasi" kekeliruan dalam kucuran dana talangan untuk Bank Century. Para senator terlihat berusaha menjalankan perannya sebagai legeslator yang salah satunya adalah mengawasi jalannya eksekutif. Namun, penulis menemukan kejengahan ketika DPR tempat para senator beraktivitas membentuk tim pengawas. Kejengahan penulis terletak pada ketidak mengertian penulis bahwa "bukankah pembentukan tim pengawas, yang bisa menanyakan, mendesak penegak hukum, merupakan suatu bentuk intefensi terhadap peran yudikatif yang sebenarnya tengah diperjuankan para senator muda?" Kedua, penulis menjadi jengah juga ketika terlihat dengan jelas bahwa setidaknya ada tiga kelompok "penikmat" badai century:
1. Kelompok pendukung gelap mata yang selalu mengatakan bahwa century tidak mengundang kekeliruan apapun
2. Kelompok pendukung gelap mata juga yang selalu bahwa Prof. Budiono dan Dr. Srimulyani adalah harus turun dari jabatannya dan dipenjara sesegara mungkin
3. Kelompok tercerahkan yang menginginkan cerita yang sebenarnya dari century
Hal yang penulis sesalkan dari ketiga kelompk tersebut adalah saat ini mereka berkelindan dan berputar menjadi satu membentuk suatu persenyawaan hingga membuat orang bodoh seperti penulis menjadi semakin merasa bodoh. Ketika semua berbicara menurut persepsi kelompoknya masing-masing alias menurut benarnya sendiri hingga seolah-olah tidak pernah ada "standard" kebenaran yang sejati atau setidaknya disepakati bersama. Yang paling menyedihkan dari fenomena ini adalah bahwa ada yang tidak jujur atau setidaknya berusaha tidak jujur dengan menepuk dadanya sendiri seolah dirinya merasa benar dan paling benar hingga bahkan kekeliruan menjadi sebuah kejahatan baginya.
Pusing bukan? Ah, ayolah kita cari makan saja.
Ada beberapa hal yang sungguh tidak dimengerti penulis mengadapi ekor angin badai century yang sempat menerpa wajah penulis. Pertama, penulis sangat mengapresiasi para senator yang mayoritas masih muda untuk "beridealis" mengungkap "indikasi" kekeliruan dalam kucuran dana talangan untuk Bank Century. Para senator terlihat berusaha menjalankan perannya sebagai legeslator yang salah satunya adalah mengawasi jalannya eksekutif. Namun, penulis menemukan kejengahan ketika DPR tempat para senator beraktivitas membentuk tim pengawas. Kejengahan penulis terletak pada ketidak mengertian penulis bahwa "bukankah pembentukan tim pengawas, yang bisa menanyakan, mendesak penegak hukum, merupakan suatu bentuk intefensi terhadap peran yudikatif yang sebenarnya tengah diperjuankan para senator muda?" Kedua, penulis menjadi jengah juga ketika terlihat dengan jelas bahwa setidaknya ada tiga kelompok "penikmat" badai century:
1. Kelompok pendukung gelap mata yang selalu mengatakan bahwa century tidak mengundang kekeliruan apapun
2. Kelompok pendukung gelap mata juga yang selalu bahwa Prof. Budiono dan Dr. Srimulyani adalah harus turun dari jabatannya dan dipenjara sesegara mungkin
3. Kelompok tercerahkan yang menginginkan cerita yang sebenarnya dari century
Hal yang penulis sesalkan dari ketiga kelompk tersebut adalah saat ini mereka berkelindan dan berputar menjadi satu membentuk suatu persenyawaan hingga membuat orang bodoh seperti penulis menjadi semakin merasa bodoh. Ketika semua berbicara menurut persepsi kelompoknya masing-masing alias menurut benarnya sendiri hingga seolah-olah tidak pernah ada "standard" kebenaran yang sejati atau setidaknya disepakati bersama. Yang paling menyedihkan dari fenomena ini adalah bahwa ada yang tidak jujur atau setidaknya berusaha tidak jujur dengan menepuk dadanya sendiri seolah dirinya merasa benar dan paling benar hingga bahkan kekeliruan menjadi sebuah kejahatan baginya.
Pusing bukan? Ah, ayolah kita cari makan saja.
26 April 2010
Jalan Raya Porong, Kemarin !
Kemarin (25/4), penulis melewati jalan raya porong. Jalan raya yang untuk saat ini sangat terkenal di se-antero negeri atau setidaknya sangat familiar dengan warga Jawa Timur. Betapa tidak, di dekat jalan raya ini lah telah terjadi fenomena alam yang sangat mengguncang hati nurani. Entahlah, fenomena alam itu lebih disebabkan seuatu mekanisme alam menuju keseimbangan atau karena tangan-tangan kotor manusia.
Ketika melalui jalan raya porong tersebut penulis melihat fenomena yang sebenarnya pernah penulis lihat. Jika anda pernah melewati jalan raya tersebut dari arah Surabaya menuju Malang, di sebelah kiri anda akan dijumpai tanggul yang sangat tinggi sementara di sebelah kanan anda akan dijumpai kampung mati yang sebetulnya belum punah benar. Selama perjalanan, penulis membayangkan kampung mati tersebut sebelum adanya fenomena alam tersebut. Penulis yakin, pada waktu itu kehidupan berjalan seperti biasanya. Anak-anak bermain bola, layang-layang atau bahkan bermain kelereng. Mereka bercita-cita kelak dapat bersekolah di Malang, Surabaya atau bahkan di tempat lain di negeri ini. Pemuda-pemudi rajin mengaji setiap hari jumat. Orang tua mengawasi permainan anak-anaknya di setiap sore. Sungguh indah dipandang mata.
Namun, apa yang sekarang terjadi. Semua lenyap begitu saja. Sekarang yang ada adalah kekhawatiran jebolnya tanggul, munculnya pusat-pusat semburan baru meskipun dalam skala kecil, hingga amblasnya tanah di sana sini. Entah sampai kapan penduduk di sepanjang jalan raya porong akan sanggup menghadapi hari-hari yang menggelisahkan. Para ahli pernah meperkirakan semburan lumpur yang terjadi di Porong akan berlangsung hingga 30 tahun atau bahkan hingga 100 tahun. Luar biasa. Entah dengan cara apa penduduk disana akan menjalaninya. Untuk membayangkannya pun, penulis sungguh tidak sanggup. Hanya kepada Tuhanlah penulis serahkan masalah ini.
Ketika melalui jalan raya porong tersebut penulis melihat fenomena yang sebenarnya pernah penulis lihat. Jika anda pernah melewati jalan raya tersebut dari arah Surabaya menuju Malang, di sebelah kiri anda akan dijumpai tanggul yang sangat tinggi sementara di sebelah kanan anda akan dijumpai kampung mati yang sebetulnya belum punah benar. Selama perjalanan, penulis membayangkan kampung mati tersebut sebelum adanya fenomena alam tersebut. Penulis yakin, pada waktu itu kehidupan berjalan seperti biasanya. Anak-anak bermain bola, layang-layang atau bahkan bermain kelereng. Mereka bercita-cita kelak dapat bersekolah di Malang, Surabaya atau bahkan di tempat lain di negeri ini. Pemuda-pemudi rajin mengaji setiap hari jumat. Orang tua mengawasi permainan anak-anaknya di setiap sore. Sungguh indah dipandang mata.
Namun, apa yang sekarang terjadi. Semua lenyap begitu saja. Sekarang yang ada adalah kekhawatiran jebolnya tanggul, munculnya pusat-pusat semburan baru meskipun dalam skala kecil, hingga amblasnya tanah di sana sini. Entah sampai kapan penduduk di sepanjang jalan raya porong akan sanggup menghadapi hari-hari yang menggelisahkan. Para ahli pernah meperkirakan semburan lumpur yang terjadi di Porong akan berlangsung hingga 30 tahun atau bahkan hingga 100 tahun. Luar biasa. Entah dengan cara apa penduduk disana akan menjalaninya. Untuk membayangkannya pun, penulis sungguh tidak sanggup. Hanya kepada Tuhanlah penulis serahkan masalah ini.
24 April 2010
Pemilukada, Riwayatmu Kini
Setelah menikmati opera sabun berbagai sekandal yang menggerogoti sendi kehidupan negeri ini, masyarakat kembali akan diberi hiburan yang tak kalah menariknya dengan opera sabun sebelumnya, yaitu pemilukada alias pemilihan umum kepala daerah. Terus terang penulis senyum-senyum sendiri mendengar akronim baru ini dari pembawa berita televisi. Maklum, dahulu penulis terbiasa dengan akronim pilkada hingga pilkadal.
Kembali ke hiburan pemilukada. Pemilukada kali ini tengah menjadi gunjingan yang hangat bagi penduduk di wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Betapa tidak, mereka akan disodori pilihan calon pemimpin mereka seorang artis dari ibukota. Artis yang terkenal yang bernama Julia Perez. Wow memang.
Sebenarnya kehadiran artis di panggung politik bukan peristiwa yang baru di negeri ini bahkan di beberapa belahan dunia yang menganut madzhab demokrasi sebagai mesin untuk mengkreasi kepemimpinannya. Namun, fenomena Julia Perez ini menarik menjadi bahan gunjingan bagi warga Pacitan dan daerah lain lebih disebabkan dua hal, yaitu pertama sepak terjang ke-artis-an Julia Perez yang banyak menuai kontroversi serta yang kedua adalah insiatif Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk memasukkan satu item persyaratan bagi peserta kontes dalam pemilukada yaitu "tidak cacat moral".
Sepak terjang ke-artisan Julia Perez memang telah banyak publik ketahui mengundang berbagai kontroversi. Dari mulai penampilannya yang seksi hingga karya seni yang dihasilkannya yang cenderung vulgar. Sebenarnya tolak ukur seksi dan kevulgaran bagi bangsa yang tengah gandrung mengembalikan tata nilai pada pribadi masing-masing seharusnya bukan menjadi masalah besar. Tiap orang bisa mempunyai opini atau pendapat yang benar setidaknya menurut orang itu. Tidak perlu merujuk pada nilai adat apalagi agama. Yang terpenting adalah menurut sendiri benar adanya. Bukan begitu?
Mengenai moralitas, inilah yang menjadi tanda tanya besar. Selain parameter apa yang akan digunakan untuk mengulur "ketidak cacatan" moral, yang paling penting adalah standar moralitas siapa yang dipakai. Seperti yang penulis ceritakan sebelumnya, standar moral bangsa ini berbeda-beda bahkan untuk setiap individu. Tidak hanya moralitas, kebenaran pun akan berbeda-beda. Lalu manakah yang harus digunakan?
Wah, rumit sekali ya. Tapi setidaknya hal ini tidak rumit bagi rakyat kebanyakan. Pemilukada adalah pekerjaan mudah dan menyenangkan. Hal ini disebabkan akan banyak parade dangdut, kaos gratis, makan siang gratis, bensin gratis, sembako gratis bahkan uang gratis. Asyik bukan?
Kembali ke hiburan pemilukada. Pemilukada kali ini tengah menjadi gunjingan yang hangat bagi penduduk di wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Betapa tidak, mereka akan disodori pilihan calon pemimpin mereka seorang artis dari ibukota. Artis yang terkenal yang bernama Julia Perez. Wow memang.
Sebenarnya kehadiran artis di panggung politik bukan peristiwa yang baru di negeri ini bahkan di beberapa belahan dunia yang menganut madzhab demokrasi sebagai mesin untuk mengkreasi kepemimpinannya. Namun, fenomena Julia Perez ini menarik menjadi bahan gunjingan bagi warga Pacitan dan daerah lain lebih disebabkan dua hal, yaitu pertama sepak terjang ke-artis-an Julia Perez yang banyak menuai kontroversi serta yang kedua adalah insiatif Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk memasukkan satu item persyaratan bagi peserta kontes dalam pemilukada yaitu "tidak cacat moral".
Sepak terjang ke-artisan Julia Perez memang telah banyak publik ketahui mengundang berbagai kontroversi. Dari mulai penampilannya yang seksi hingga karya seni yang dihasilkannya yang cenderung vulgar. Sebenarnya tolak ukur seksi dan kevulgaran bagi bangsa yang tengah gandrung mengembalikan tata nilai pada pribadi masing-masing seharusnya bukan menjadi masalah besar. Tiap orang bisa mempunyai opini atau pendapat yang benar setidaknya menurut orang itu. Tidak perlu merujuk pada nilai adat apalagi agama. Yang terpenting adalah menurut sendiri benar adanya. Bukan begitu?
Mengenai moralitas, inilah yang menjadi tanda tanya besar. Selain parameter apa yang akan digunakan untuk mengulur "ketidak cacatan" moral, yang paling penting adalah standar moralitas siapa yang dipakai. Seperti yang penulis ceritakan sebelumnya, standar moral bangsa ini berbeda-beda bahkan untuk setiap individu. Tidak hanya moralitas, kebenaran pun akan berbeda-beda. Lalu manakah yang harus digunakan?
Wah, rumit sekali ya. Tapi setidaknya hal ini tidak rumit bagi rakyat kebanyakan. Pemilukada adalah pekerjaan mudah dan menyenangkan. Hal ini disebabkan akan banyak parade dangdut, kaos gratis, makan siang gratis, bensin gratis, sembako gratis bahkan uang gratis. Asyik bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)
